Skip to content

My Blog

My WordPress Blog

Menu
  • Sample Page
Menu
Keuntungan & risiko masing-masing metode

Just-In-Time vs Safety Stock: Mana yang Cocok untuk Bisnismu?

Posted on December 7, 2025

JIT vs Safety Stock: Bagaimana Memaksimalkan Supply Chain Bisnismu

Keuntungan & risiko masing-masing metode

Manajemen inventaris merupakan salah satu aspek paling krusial dalam operasional perusahaan. Just-In-Time (JIT) dan Safety Stock adalah dua strategi inventory yang populer, namun memiliki filosofi dan risiko berbeda. Memilih metode yang tepat bisa meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan menjaga kepuasan pelanggan. Artikel ini membahas secara mendalam perbedaan kedua metode, keuntungan, risiko, contoh industri, hingga cara menentukan strategi ideal untuk bisnismu.

Definisi JIT dan Safety Stock

Just-In-Time (JIT)

Just-In-Time adalah strategi manajemen inventaris yang menekankan pembelian dan produksi barang hanya saat dibutuhkan. Tujuannya adalah mengurangi biaya penyimpanan dan mengoptimalkan arus kas. Fitur utama JIT:

  • Persediaan minimum atau hampir nol.
  • Produksi dan pengadaan sinkron dengan permintaan.
  • Fokus pada efisiensi proses dan eliminasi pemborosan.

Toyota menjadi pelopor JIT dalam industri otomotif. Sistem ini memungkinkan mereka memproduksi mobil sesuai pesanan tanpa menumpuk stok besar.

Safety Stock

Safety Stock adalah persediaan cadangan yang disimpan untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan atau keterlambatan pengiriman. Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko kehabisan stok dan menjaga kontinuitas produksi. Ciri khas Safety Stock:

  • Menyediakan buffer inventory di gudang.
  • Meminimalkan risiko delay akibat fluktuasi permintaan.
  • Membutuhkan biaya penyimpanan lebih tinggi dibanding JIT.

Safety Stock cocok untuk perusahaan yang menghadapi permintaan tidak stabil atau supplier dengan lead time panjang.

Perbedaan Tujuan dan Pola Operasional

1. Tujuan

Metode Tujuan Utama
JIT Mengurangi biaya penyimpanan, meningkatkan efisiensi arus kas
Safety Stock Mengurangi risiko kehabisan stok, menjaga kontinuitas produksi

2. Pola Operasional

  • JIT: Produksi dan pengadaan tepat waktu, bergantung pada akurasi forecast dan koordinasi supplier.
  • Safety Stock: Menyediakan buffer inventory sebelum kebutuhan nyata muncul, fokus pada proteksi dari ketidakpastian.

Dengan kata lain, JIT menekankan efisiensi dan minim stok, sedangkan Safety Stock menekankan keamanan operasional.

Keuntungan & Risiko Masing-Masing Metode

Keuntungan JIT

  1. Biaya penyimpanan rendah: Tidak perlu gudang besar atau stok menumpuk.
  2. Pengelolaan modal lebih ringan: Arus kas lebih efisien karena pembelian disesuaikan kebutuhan.
  3. Mengurangi risiko barang kadaluarsa: Cocok untuk produk perishable seperti makanan dan farmasi.

Risiko JIT

  1. Rentan terhadap gangguan supplier: Keterlambatan pengiriman langsung berdampak pada produksi.
  2. Tidak fleksibel menghadapi lonjakan permintaan: Permintaan tak terduga bisa menyebabkan stok habis.
  3. Butuh koordinasi tinggi: Supplier dan proses produksi harus sinkron.

Keuntungan Safety Stock

  1. Mengurangi risiko kehabisan stok: Menjamin kontinuitas produksi dan pengiriman.
  2. Fleksibel menghadapi fluktuasi permintaan: Bisa menampung lonjakan permintaan mendadak.
  3. Memberi waktu untuk menyesuaikan supply chain: Buffer membuat perusahaan lebih tenang menghadapi ketidakpastian.

Risiko Safety Stock

  1. Biaya penyimpanan lebih tinggi: Memerlukan ruang gudang dan modal tambahan.
  2. Potensi barang kadaluarsa atau rusak: Persediaan lama bisa menimbulkan kerugian.
  3. Inefisiensi modal: Modal tersangkut di inventaris yang mungkin tidak segera dibutuhkan.

Menurut Harvard Business Review (2021), perusahaan yang berhasil memilih metode sesuai karakter produk dan pasar bisa mengurangi biaya operasional hingga 20% sambil menjaga service level.

Contoh Industri yang Cocok

1. Industri Otomotif -JIT

  • Toyota, Honda, dan Nissan menerapkan JIT untuk produksi mobil.
  • Mengandalkan koordinasi ketat dengan supplier komponen dan forecast permintaan yang akurat.
  • Efisiensi tinggi, biaya gudang minimal, tetapi sangat rentan pada gangguan supplier global.

2. Industri Makanan dan Farmasi – Safety Stock

  • Produk mudah rusak seperti makanan beku, obat-obatan, atau vaksin memerlukan Safety Stock.
  • Menjamin ketersediaan walaupun ada keterlambatan pengiriman bahan baku atau lonjakan permintaan mendadak.

3. Retail E-Commerce

  • Gabungan JIT dan Safety Stock sering digunakan.
  • Barang populer mengikuti JIT, sedangkan produk dengan permintaan fluktuatif disediakan buffer inventory.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa pemilihan strategi harus menyesuaikan karakteristik produk, lead time supplier, dan risiko pasar.

Cara Menentukan Strategi Inventory Ideal

Menentukan strategi yang tepat memerlukan analisis menyeluruh. Beberapa langkah praktis:

1. Analisis Permintaan

  • Gunakan data historis untuk memahami pola permintaan.
  • Identifikasi produk dengan permintaan stabil vs fluktuatif.

2. Evaluasi Supplier dan Lead Time

  • Jika supplier handal dan cepat, JIT lebih feasible.
  • Jika supplier memiliki lead time panjang atau risiko gangguan tinggi, Safety Stock lebih aman.

3. Pertimbangkan Biaya dan Ruang Gudang

  • Hitung biaya penyimpanan dan modal yang tersangkut.
  • Sesuaikan kapasitas gudang dan anggaran.

4. Hybrid Strategy

  • Banyak perusahaan menerapkan kombinasi JIT dan Safety Stock.
  • Produk utama dan populer mengikuti JIT, sementara produk kritis atau fluktuatif disimpan buffer inventory.

5. Continuous Monitoring

  • Lakukan review rutin untuk menyesuaikan strategi dengan perubahan permintaan, biaya, dan kondisi pasar.

Menurut APICS (2022), perusahaan yang mengkombinasikan JIT dan Safety Stock mampu mencapai service level optimal sambil mengurangi biaya penyimpanan hingga 15-25%.

Kesimpulan

Baik JIT maupun Safety Stock memiliki keunggulan dan risiko masing-masing. Kesimpulannya:

  1. JIT cocok untuk produk dengan permintaan stabil dan supplier handal, fokus pada efisiensi dan minim stok.
  2. Safety Stock cocok untuk produk dengan permintaan fluktuatif atau risiko gangguan tinggi, fokus pada kontinuitas operasional.
  3. Hybrid strategy sering menjadi pilihan optimal, menggabungkan efisiensi JIT dengan keamanan Safety Stock.
  4. Analisis permintaan, lead time, biaya, dan kapasitas gudang menjadi dasar menentukan strategi inventory ideal.

Dengan memahami karakteristik bisnis dan produk, perusahaan dapat memilih strategi yang tepat untuk mengurangi biaya, menjaga kontinuitas, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Ingin membuat supply chain lebih stabil, efisien, dan minim risiko? Klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial, serta pelajari strategi SCM yang terbukti meningkatkan performa bisnis Anda!

Referensi

  1. Harvard Business Review. (2021). Inventory Strategies: Balancing Efficiency and Risk.
  2. APICS. (2022). Supply Chain Management and Inventory Control Handbook.
  3. Toyota Production System. (2020). Just-In-Time Manufacturing Principles.
  4. Deloitte. (2022). Inventory Optimization Strategies for Modern Businesses.
  5. McKinsey & Company. (2021). Hybrid Inventory Strategies: JIT and Safety Stock.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Kenapa Banyak Bisnis Besar Gagal? Karena Menyepelekan Supply Chain Management
  • Perencanaan Kapasitas Produksi agar Pasokan Tidak Berlebih atau Kekurangan
  • Omnichannel Supply Chain: Solusi Distribusi Cepat untuk Era Digital
  • Return Management: Kurangi Kerugian dari Produk Retur Secara Efektif
  • Transformasi Supply Chain Menuju Smart Ecosystem — Sudah Mulai?

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • December 2025
  • November 2025

Categories

  • pelatihan
  • soft skill
  • strategi
  • supply chain management
  • training
  • Uncategorized
©2026 My Blog | Design: Newspaperly WordPress Theme